Followers

Titik Terendah yang menjilatiku

Tuesday, 1 November 2011

Aku melewati hamparan jalanan
ku temui kaki bumi telah menitikkan air matanya
entah kenapa pikiranku terenyuh
tak kuasa menahan dahaga akan kebingasan
aku pun mulai menoleh ke arah lain
tapi tiada perbedaan yang berarti dalam pandanganku

Lalu ku putuskan untuk berjalan lagi
walau aku tau lobang-lobang jalanan telah menantiku
dan siap untuk memangsaku hidup-hidup
aku tak perduli

Inginku melewati jalan yang berada di seberang
tapi truk siap menghantamku hingga tewas
memutar balikkan badan kebelakang
segerombolan anjing siap menerkam
aku tak tau harus bagaimana
tanganku kaku tak bersaya
mulutku lemah dan tak berdesah

Lenyap dalam angan-angan semu
maju satu langkah mundur lima langkah
aku berada dalam perjalanan kelam
merasa di dalam titik terendah yang menjilatiku dengan penuh erangan
memberontak percuma mati pun sia-sia
ku putuskan berhenti dalam petengahan jalan
sama aku pun tak selamat sampai tujuan

6 Comments:

Itik Bali said...

Jangan berhenti dong
kalo mau selamat musti lari
kalo bisa yang kenceng...

Dian Wardana said...

Hahaha kalo larinya sama kamu aku mau :3
#loh .. kwkwkw

Ikbal Rizki said...

waaahhhh ajibb...

ahhhhh #mendesahh :D wkwkwk

beby said...

maju satu langkah mundur lima langkah

eh gak jadi, mundur empat langkah aja, ternyata blakang gue jurang :3

Nizwa Ayuni said...

wahh kayanya lagi galau tingkat tinggi nihh pas bikin puisi.. :D

Andaka Pramadya said...

haha bang dian berpuisi *keprokkeprok*

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...